Artikel

22/05/2018 Dukung Pajale, SMK PP Negeri Sembawa Tanam 2 Hektar Jagung Hibrida

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian telah menetapkan Empat Sukses Pembangunan Pertanian, satu diantaranya adalah Swasembada dan Swasembada Berkelanjutan. Swasembada tersebut merujuk kepada Padi, Jagung dan Kedelai (Pajale).

Padi dan jagung telah mencapai swasembada namun untuk mempertahankannya tentu harus terus didukung oleh semua pihak, tak terkecuali civitas pendidikan vokasi pertanian.

Dalam rangka ikut serta menyukseskan program swasembada dan swasembada berkelanjutan komoditi Pajale tersebut, SMK Pertanian Pembangunan Negeri (SMK PP N) Sembawa tanam jagung hibrida seluas 2 hektar.

Budidaya jagung hibrida dilaksanakan oleh Tim Unit Produksi Tanaman Pangan dan Hortikultura bekerja sama dengan peserta didik kelas X Program Studi (Prodi) Agribisnis Tanaman Pangan dan Hortikultura (ATPH) 1 dan 2 sebanyak 60 orang melalui mata pelajaran Dasar-Dasar Budidaya (DDB) yang dibimbing oleh Bapak Yoniar Effendi, SP, MP.

Kegiatan tersebut dilaksanakan di lahan praktek prodi ATPH, dimulai dengan persiapan lahan pada awal Desember 2017 yang meliputi pengolahan tanah pertama secara mekanik dengan menggunakan traktor besar roda 4, dilanjutkan dengan pengolahan tanah kedua (garu).

Sebelum ditanam, dibuat alur tanam dengan jarak tanam 80 cm antar barisan dan 20 cm dalam barisan (80 cm x 20 cm). Pada tiap alur tanam diberikan pupuk kandang sebanyak 5 ton (sekitar 500 sak) dan pupuk dasar TSP sebanyak 100 kg per hektar.

Penanaman dilaksanakan pada tanggal 23 s.d. 30 desember 2017 di awal musim hujan, menggunakan benih jagung hibrida unggul Bima URI 19 dan Bisi 18 sebanyak 60 kg dengan rata-rata 2 benih per lubang tanam. Populasi tanaman yang diharapkan tumbuh adalah 100.000 tanaman per hektar dan potensi hasil yang diinginkan antara 5 s.d. 6 ton per hektar.

Pemeliharaan tanaman per hektar meliputi penyiangan menggunakan herbisida selektif venator (produsen DGW) dosis 5 liter, pemupukan I (pertama) 2 minggu setelah tanam menggunakan pupuk urea dengan dosis 100 kg, pemupukan II (kedua) 4 minggu setelah tanam menggunakan pupuk urea 50 kg dan NPK Phonska 50 kg serta pemupukan III (ketiga) 6 minggu setelah tanam menggunakan pupuk NPK Phonska 50 kg dan KCL 50 kg.

Penyiraman tidak dilakukan karena musim penghujan, pembumbuman juga tidak dilakukan, sementara pengendalian hama dan penyakit juga tidak dilakukan karena hama dan penyakit masih dalam ambang batas wajar.

Terkecuali hama babi hutan yang masih sangat sulit untuk diatasi. Beberapa blok lahan jagung dirusak oleh hama tersebut sehingga cukup merugikan dan tentu akan mengurangi potensi hasil panen.

Jagung Bima Uri 19 bisa dipanen pada 100 hari setelah tanam (hst) dan jagung Bisi 18 sudah bisa dipanen pada 105 hari setelah tanam (hst).

Sehingga saat ini tanaman jagung tersebut sedang dalam masa panen dan belum selesai sehingga belum dapat diketahui produksi jagung pipilan keringnya. Perkiraan harga jual jagung pipil kering per kilogram adalah Rp.3.500 s.d. Rp.4.000.

Selain mendukung program pemerintah untuk swasembada pajale, kegiatan budidaya jagung hibrida seluas 2 hektar ini juga bermanfaat bagi peserta didik yakni secara teknis mengetahui cara budidaya jagung hibrida yang baik dan benar dan berorintasi hasil serta keuntungan.

Kepala sekolah SMK PP Negeri Sembawa Ir. Mattobi’i, MP berharap agar kedepan kegiatan budidaya tanaman jagung hibrida ini secara kontinyu dilakukan dan pengembangan baik teknis, luas tanam, produksi serta analisis benefitnya selalu diupayakan untuk ditingkatkan.

Apakah pendapat Anda tentang artikel ini?