Artikel

13/11/2020 Kembalikan Kesuburan Tanah dengan Pupuk Organik Bokashi, Ini Bahan dan Cara Membuatnya

“Tongkat Batu Akar Jadi Tanaman” itulah penggalan lirik lagu lama, artinya betapa suburnya tanah Ibu Pertiwi ini. Keadaan demikian sangat potensial untuk pertanian.

Zaman dahulu orang melakukan atau membuka lahan pertanian dengan cara berpindah-pindah tempat dan membakarnya.

Harapannya dengan membuka lahan dengan cara dibakar, tanah akan subur untuk bercocok tanam.

Namun seiring berlalunya waktu dan perkembangan zaman serta pola pikir manusia semakin modern,

“Nomaden” berangsur-angsur tidak digunakan lagi. Manusia lebih memilih untuk bercocok tanam secara menetap sekaligus untuk tempat tinggal.

Saat ini kesuburan tanah sudah menurun dan kondisinya mulai rusak.

Menurut Arsyad (1989) dalam Hetti, et.all (2019) kerusakan tanah dapat terjadi karena:

  1. kehilangan unsur hara dan bahan organik di daerah perakaran;
  2. terkumpulnya garam di daerah perakaran, terkumpulnya unsur atau senyawa yang merupakan racun bagi tanaman;
  3. penjenuhan tanah oleh air; dan
  4. erosi.

Penggunaan pupuk kimia dan pestisida kimia yang berlebihan menjadi penyumbang terjadinya kerusakan tanah dan menurunnya kesuburan tanah (bahan organik). Untuk meningkatkan hasil pertanian, petani sangat bergantung pada pupuk kimia.

Mereka seakan kurang percaya dengan penggunaan pupuk organik hayati. Penggunaan pupuk kimia secara terus-menerus akan mengganggu keseimbangan sifat tanah, sehingga tanah semakin liat, tandus, sulit diolah, dan produktivitasnya semakin menurun (Nurbani, 2017).

Akibatnya dari tahun ke tahun penggunaan pupuk kimia semakin bertambah. Sehingga terjadi kelangkaan
pupuk kimia pada saat ini yang dialami oleh petani.

Melihat kondisi demikian, pemerintah giat mensosialisasikan penggunaan pupuk organik melalui media sosial maupun secara langsung pada petani.

Pupuk organik kompos Bokashi merupakan salah satu solusi untuk meredamnya penggunaan pupuk kimia yang semakin meningkat oleh petani.

Pupuk organik kompos bokashi dapat dibuat dari bahan-bahan organik (sisa-sisa mahluk hidup, baik tanaman/hewan).

Bokashi merupakan pupuk kompos yang dihasilkan dari proses fermentasi atau peragian bahan organik dengan penambahan bakteri dari EM4 (Effective Microorganism 4).

Kelebihan penambahan EM4 pada proses pengomposan bahan organik adalah waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional (alami). Didalam EM4 mengandung Azotobacter sp., Lactobacillus sp, ragi, bakteri fotosintetik dan jamur pengurai selulosa.

Tanaman Indigofera sp pada umumnya dimanfaatkan oleh petani sebagai pakan ternak yang kaya akan nitrogen, fosfor dan kalsium dan jenisnya sekitar 700 jenis
(Anggraeny S, 2020).

Instalasi komposting SMKPP Negeri Sembawa mencoba menggunakan Indigofera sp sebagai campuran dalam pembuatan pupuk kompos bokashi. Indigofera sp

Untuk mendukung dan mensosialisasikan kerja pemerintah dalam penggunaan pupuk organik kompos bokashi, SMK PPN Sembawa membuat pupuk kompos bokashi berbahan dasar limbah feses ternak sapi dan daun Indigofera sp.

Pupuk organik kompos Bokashi merupakan salah satu solusi untuk meredamnya penggunaan pupuk kimia yang semakin meningkat oleh petani.

Pupuk organik kompos bokashi dapat dibuat dari bahan-bahan organik (sisa-sisa mahluk hidup, baik tanaman/hewan).

Bokashi merupakan pupuk kompos yang dihasilkan dari proses fermentasi atau peragian bahan organik dengan penambahan bakteri dari EM4 (Effective Microorganism 4).

Kelebihan penambahan EM4 pada proses pengomposan bahan organik adalah waktu yang relatif singkat dibandingkan dengan cara konvensional (alami). Didalam EM4 mengandung Azotobacter sp., Lactobacillus sp, ragi, bakteri fotosintetik dan jamur pengurai selulosa.

Tanaman Indigofera sp pada umumnya dimanfaatkan oleh petani sebagai pakan ternak yang kaya akan nitrogen, fosfor dan kalsium dan jenisnya sekitar 700 jenis
(Anggraeny S, 2020).

Instalasi komposting SMKPP Negeri Sembawa mencoba menggunakan Indigofera sp sebagai campuran dalam pembuatan pupuk kompos bokashi. Indigofera sp

Untuk mendukung dan mensosialisasikan kerja pemerintah dalam penggunaan pupuk organik kompos bokashi, SMK PPN Sembawa membuat pupuk kompos bokashi berbahan dasar limbah feses ternak sapi dan daun Indigofera sp.

Ujang Muhammad, S ST petugas instalasi komposting yang dijumpai di lokasi praktik SMK PP N Sembawa, Jumat (13/11/2020) menjelaskan, bahan-bahan yang digunakan dalam pembuatan pupuk organik bokashi Indigofera sp sebanyak 200 kg berupa feses sapi 190 kg, daun Indigofera sp 10 kg, dedak 1 kg, EM4 40 ml, Molases 40 ml dan air 30-40 liter (tergantung kondisi feses sapi).

Peralatan yang dibutuhkan berupa sekop/cangkul ember, gayung, gelas ukur, dan gembor untuk menyiram.

Lebih lanjut Ujang Muhammad, S.ST menyebutkan langkah-langkah pembuatan pupuk organik bokashi buat larutan dari air, EM4 dan molases pada ember/bak plastik, kemudian aduk sampai larut semua bahan kemudian diamkan, siapkan feses sapi dan daun indigofera kemudian diaduk sampai tercampur rata, taburkan dedak diatas campuran feses sapi dan indigofera kemudian aduk kembali,

Siramkan larutan tadi menggunakan gembor pada tumpukan feses dan daun indigofera sampai cukup basah kemudian aduk kembali sampai merata,

Untuk mengetahui basah tidaknya bahan yang sudah disiram, ambil dan kepalkan campuran feses tadi.

Jika dikepalkan keluar air, maka bahan yang disiram larutan terlalu basah (kurang baik).

Jika setelah dikepal tidak keluar air dan saat dibuka kepalan campuran fesesnya dalam keadaan menggumpal tidak langsung merekah, maka campuran tersebut cukup,

Buat tumpukan feses dengan ketinggian sekitar 20 cm lalu tutup dengan karung goni/terpal dan diamkan selama 2 jam.

Dua jam kemudian periksa kembali suhu tumpukan pupuk, suhu yang baik berkisar antara 40-45 0 C (hangat kuku).

Jika melebihi suhu tersebut, tumpukan ditipiskan, jika suhu dibawah 40 0 C, maka tumpukan pupuk ditebalkan kemudian tutup kembali.

Lebih lanjut Ujang Muhammad menjelaskan langkah selanjutnya dalam pembuatan bokashi antara lain proses fermentasi memerlukan waktu 10-15 hari.

Pembalikan pupuk dapat dilakukan tiga hari sekali, agar uap panas didalam pupuk dapat keluar, dengan ciri-ciri pupuk bokashi yang telah “jadi” adalah warnanya kecoklatan tidak hitam (tergantung bahan baku yang digunakan), tidak berjamur, aromanya “khas”, jika dipegang tidak panas atau hangat (sudah dingin=normal)

Untuk pengaplikasian pupuk bokashi 1 kg/m 2 lahan, lihat kondisi tanah yang akan diaplikasikan.

Jika tanah tersebut kritis, maka penggunaan pupuk bokashi dapat diperbanyak.

Pencampuran bahan-bahan pupuk bokashi sudah jadi Kepala SMK PP Negeri Sembawa Ir. Mattobi’i, MP menyampaikan dalam semangat hari pahlawan 10 November 2020, bahwa bertani itu menyenangkan, petani itu pahlawan pangan bagi umat manusia, ayo kita kembalikan kesuburan tanah Ibu Pertiwi ini.

Hal ini sesuai dengan program utama Kementerian Pertanian yaitu kesejahteraan petani, peran petani sangat besar dalam menyediakan kebutuhan pangan bagi seluruh masyarakat Indonesia dan juga menciptakan ketahanan pangan nasional, dengan informasi mengenai bokashi diharapkan dapat dimanfaatkan petani untuk pertanian lebih baik.

Apakah pendapat Anda tentang artikel ini?